Jumat, 01 Februari 2013

#DayOne : Sebuah Awal…


“Start every day off with a smile and get it over with” (W.C. Fields)


Dear Ms. Wijayakusuma,

Rasanya akan sangat tidak adil ketika kita berbicara tentang sebuah cerita tanpa awalan. Orang bilang bagian awal itu kunci agar orang tertarik lebih dalam untuk masuk ke dalam sebuah tulisan. Aku rasa hal itu mungkin saja tepat. Tapi tidak ada yang lebih menarik memang dari sebuah awal cerita, yang tentu saja meninggalkan sebuah kesan.

Awalnya kita tak saling mengenal, bahkan mungkin belum saling bertatap muka. Hanya sekedar mengerti tapi belum memahami. Masih abu-abu, samar dan tak bisa dijelaskan dengan rangkaian kata. Apa yang membuatnya menjadi menarik? Sampai pada hal ini aku sendiri pun bahkan belum bisa menjelaskan. Aku dan kamu, rasanya berpapasan saja mungkin bisa dikatakan tak pernah. Aku terlalu lama tenggelam dalam duniaku sendiri, dunia di luar hiruk pikuk kampus. Sedangkan kamu, jelas saja masih masuk ke dalam sebuah dunia yang belum kau jamah sebelumnya dan itu pasti membuatmu penasaran.

Seharusnya, pada saat inisiasi berlangsung kita berpapasan. Entah mengapa kita sama-sama lupa ada dimana kita dan seperti apa kita pada waktu itu. Terlalu gelap. Mungkin malam sengaja membiarkan kita untuk tak saling mengenal terlebih dahulu. Bahkan ketika inisiasi usai seharusnya aku menjabat tanganmu, tapi entah kenapa aku sendiri pun tak bisa mengingatnya. Yah, aku memang bukan pengingat yang baik. Belum sempat bertegur sapa dan bercengkrama dengan semua orang, lagi-lagi aku harus segera turun. Bukan karena tak mau mengenal, tapi karena aku tak membawa kendaraanku sendiri. Mau tak mau tentu harus ikut dengan jadwal teman baikku karena memang dari awal kita memutuskan untuk pergi menghadiri inisiasi bersama. Lalu momen itu terlewati begitu saja. Waktu masih belum mengijinkan kita untuk saling mengenal rupanya.

Mungkin saja kita baru sadar bahwa kita benar-benar terhubung melalui sosial media. Awalnya tak menyangka bahwa ada akunmu dalam daftar orang-orang yang mengikuti aku, melalui sosial media yang menggunakan logo burung kecil. Dari momen itulah sempat terjadi beberapa kali percakapan walau hanya sosial media karena kita mengenal beberapa orang yang sama. Sampai pada satu momen yang kemudian membuat segalanya menjadi berbeda.

Dengan bersemangat aku meminta nomor telepon genggam milikmu. Bukan, bukan karena aku ingin mengenalmu. Justru karena sedang mencari informasi mengenai teman-temanmu lah aku bertanya kepadamu. Orang bilang mungkin ini hanya sekedar iseng, tapi sebetulnya tidak. Aku benar-benar sedang diberi tugas untuk mencari informasi tentang teman satu angkatanmu. Dari situlah kemudian percakapan baru benar-benar dimulai, permainan kata kemudian mengalir, dan semua seakan terasa begitu…lepas. Rasanya semua kata aku biarkan saja mengalir keluar dari dalam pikiranku tanpa harus meledakkannya.

Aku membiarkan semua proses yang terjadi mengalir begitu saja tanpa harus memaksakan apapun. Rasanya lebih nyaman ketika menjalani semuanya dengan sederhana. Apalagi aku biasa untuk bekerja di “bawah tanah”, jauh dari keramaian lini masa. Tapi apa cukup hanya sekedar kata saja?

Lalu pada satu hari, kita bertemu. Tak direncakan, terjadi begitu saja. Aku dan kamu bertemu di satu tempat penjaja es krim dan makanan ringan. Waktu itu kamu berkata kamu sendiri, menunggu seorang teman. Seketika itu pula ide untuk datang muncul dikepala tanpa diberi komando. Aku pun segera saja bergegas menghidupkan sepeda motor tuaku dan melaju perlahan sampai pada akhirnya tiba di tempat penjaja es krim itu. Mataku mencoba untuk mencari sosokmu, walaupun aku tahu mata ini belum cukup familiar denganmu. Tapi entah kenapa dengan begitu cepat pula mataku tertuju pada sosokmu. Kamu pun terkejut. Awalnya memang terasa canggung tapi perlahan kita membiarkan diri ini membangun sebuah menara kata-kata, bertukar cerita bahkan senyuman. Sebuah sore yang cukup melegakan dan penutup yang manis bagi aktifitas hari itu, karena aku rasa cukup penat seharian berurusan dengan birokrasi akademik yang menyebalkan. Hanya ada senyuman lebar yang terus terlukis di wajah ini.

Esoknya, tiba-tiba kamu menghilang. Entah apa yang terjadi aku sendiri pun tak tahu. Ya, hanya menghilang. Rasa penasaran pun sempat hinggap di kepala ini sambil terus berpikir apa yang terjadi. Sampai ketika senja tiba kamu muncul, membagikan cerita. Ada kesedihan di dalamnya dan aku rasa tidak mudah bagimu untuk ungkapkan semua itu. Aku merasa bahwa setidaknya ingin membuat senyuman yang meneduhkan kemarin bisa terlukis di wajahmu. Rasanya bersedih sama sekali tak cocok terlukis di wajahmu.

Lalu aku mencoba untuk datang dan menawarkan sebuah senyuman. Ah, bukan senyuman tapi pelangi…ya, pelangi. Aku selalu teringat dengan satu perkataan bijak bahwa pelangi membawa kebahagiaan dan keteduhan setelah hujan turun, bahkan setelah badai datang sekalipun. Maka aku pun mencoba untuk datang dan membawakan pelangi untukmu, membawa keteduhan dan senyuman itu kembali terlukis di wajahmu.

Jelas bukan hal yang mudah, membawa pelangi dengan ratusan bahkan jutaan warna di dalamnya. Ada banyak elemen didalamnya yang membuatnya begitu menarik, menenduhkan, dan membawa kebahagiaan. Walau berat aku mencoba untuk membawanya kepadamu, agar senyuman itu kembali. Dan pada akhirnya senyuman itu kembali terlukis, dan ada kebahagiaan dan keteduhan yang tersirat di dalamnya. Rasanya tugasku sebagai lelaki pembawa pelangi cukup bekerja dengan baik. Walaupun aku menyadari sepenuhnya bahwa mungkin aku belum cukup baik untuk membawa pelangi, paling tidak aku sudah berusaha semampuku untuk itu. Saat itulah kamu menyebutku sebagai “lelaki pembawa pelangi”.

Ah, rasanya cukup banyak hal yang aku dapat ceritakan. Namun rasanya tidak cukup adil bukan ketika membicarakan sebuah awalan dengan panjang lebar? Ya, perlahan tapi pasti aku akan bercerita hingga kau terlelap. Jadi segera saja kututup komputer jinjingku dan mulai memainkan pemutar musik milikku. Satu tembang yang muncul adalah Bruno Mars – Just the Way You Are dan bersama dengan tembang ini pula aku mulai memejamkan mataku, berharap kau membacanya hingga usai, dengan senyuman yang selalu terlukis diwajahmu. Sebenarnya ini tidak akan usai, karena dengan begitu semua jadi jauh lebih menarik bukan?

From dearest,


Mr. Rainbow


Rangkaian pertama dari empat belas tulisan, #14DaysProject

Tidak ada komentar: