Jumat, 11 November 2011

Ular Besi dan Sejuta Memori (Bagian Akhir)


“You must pass your days in song. Let your whole life be a song.” (Sai Baba)


Inilah lanjutan dari cerita sebelumnya..

***

Ular besi masih melaju, membawa sejuta mimpi menembus malam yang beku. Aku masih terjaga saat lagu selesai berputar. Sedikit merasa heran karena lagu-lagu ini seakan membawaku ke masa lalu. Tapi semua ini tak lagi kuanggap sebagai siksaan, aku menganggap ini sebagai refleksi diri.

Aku berdiri dari tempat dudukku dan berjalan menuju selasar perpindahan gerbong. Kulihat di sebelah kanan, ada seorang bapak yang terlelap dalam mimpinya. Kuputuskan untuk berdiri di dekat toilet. Pintu terbuka lebar dan aku masih mendengarkan lagu. Kulihat lagu selanjutnya yang diputar oleh telepon genggamku adalah Andre Hehanusa – Karena Kutahu Engkau Begitu (KKEB). Seketika itu pula aku hanyut lagi dalam memoriku.

***

Aku tidak lah pandai dalam memainkan alat musik, tapi terkadang kamu memaksaku untuk memainkan sebuah lagu. Jelas aku bingung dan harus sedikit memutar otak. Aku tidak sepertimu yang jauh lebih mudah membaca nada-nada dalam bahasa yang tak kumengerti itu. Kamu bahkan tahu caranya memainkan beberapa alat musik, walaupun kamu bilang padaku tidak terlalu mahir memainkannya.

Saat kamu terus memintaku untuk melantunkan sebuah lagu disaat itulah aku punya ide. Aku mencoba untuk mencari instrumen dari lagu Andre Hehanusa yang berjudul Karena Kutahu Engkau Begitu. Setelah kutemukan, aku memainkan instrumen lagu itu dan menyanyikan lagu itu untukmu. Awalnya kamu terdiam, takjub tapi aku tahu pasti kamu tak mau mengakuinya.

Saat aku telah selesai menyanyikan lagu itu kamu berkomentar bahwa suaraku fals tapi usahaku patut diacungi jempol. Aku tertawa dan berkata padamu bahwa “aku memang bukan penyanyi yang baik tapi setidaknya aku menyanyikannya sepenuh hati”. Di saat itu pula ledak tawa keluar dari mulut kita masing-masing.

***

Kulihat keluar masih gelap juga, pemandangan tak terlihat karena ular besi bergerak cepat. Ular besi yang satu ini memang aneh, kadang ia bergerak dengan sangat cepat tapi bisa juga sangat lambat. Lagu pun telah usai diputar. Aku malah semakin penasaran dengan lagu yang akan dimainkan oleh telepon genggamku selanjutnya. Seakan-akan semua ini berbalik menjadi candu, ya candu memori masa lalu. Entah kenapa ketika lagu berikutnya diputar justru aku merasa lagu ini menamparku sangat keras. Bahkan membuatku meneteskan air mata untuk sesaat. Lagu itu adalah Ecoutez – Simpan Saja.

***

Aku dan kamu sempat mengalami rehat panjang dalam hubungan ini. Salah satu alasannya adalah hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR). Seorang kawan pernah berkata bahwa LDR itu awalnya memang indah jadi bisa disebut long distance relationsweet tapi akhirnya bisa jadi long distance relationshit. Memang ada benarnya pernyataan yang satu ini. Kita berdua mengalami sebuah masa dimana ada sebuah kepenatan dalam hubungan jarak jauh ini.

Telepon genggam dan pertemuan di saat ada kesempatan, ternyata tak cukup memberikan ruang pada dua rasa anak manusia ini. Rasanya ada perasaan yang memudar di hubungan ini dan tidak lagi sehangat dulu. Kamu lalu menganggap bahwa semua ini membuatmu lelah dan rasanya kamu ingin berhenti. Lalu kamu memberikan lagu Ecoutez yang berjudul Simpan Saja kepadaku untuk aku dengarkan. Di saat itulah aku merasa bahwa apa yang kulakukan memang tak cukup untukmu. Kau menginginkan lebih dari sekedar telepon genggam dan pertemuan yang berlangsung sesekali itu. Kamu ingin semua seperti dulu. Tapi bagaimana caranya semua ini berjalan ketika aku dan kamu ada di lokasi yang berbeda dan cukup jauh jika ditempuh dengan sepeda motor tuaku? Semua ini cukup membuatku bingung, lelah, dan bahkan bisa membuatku gila! Lantas apa yang bisa aku perbuat?

Aku hanya bisa hanyut dalam lagu itu sambil meneteskan air mata untuk sesaat. Ada rasa sesal yang muncul dan aku tak bisa menyelesaikan masalah ini pada waktu itu. Rasanya begitu menyebalkan.

***

Ular besi masih terus melaju. Sejenak aku lihat pemandangan di luar, masih tampak samar karena gelap masih pekat. Ular besi tiba-tiba berjalan perlahan, aku menduga akan berhenti sejenak untuk mengisi perutnya yang telah lapar. Aku sendiri? Tak terasa sudah rasa lapar karena lagu-lagu yang kuputar. Sejenak ada jeda sampai lagu berikutnya dimainkan oleh telepon genggamku. Ternyata lagu yang diputar berikutnya adalah Anda – Cukup Dalam Hati. Rasanya aku melewatkan untuk mendengarkan lagu ini, tapi aku hanyut dalam memoriku sendiri..

***

Aku dan kamu, satu-satunya penghubung jarak di antara kita adalah komunikasi melalui telepon genggam atau dunia maya. Rasanya menyebalkan memang dan tidak jarang selalu ada momen komunikasi yang kurang baik di antara kami. Pernah pada suatu momen kami bertengkar dengan alasan sederhana, pulang.

Kamu berucap padaku ingin pulang tapi aku tahu bahwa kamu tidak libur pada waktu itu. Kamu tidak mengatakan padaku alasanmu untuk pulang dan itu membuatku heran. Saat itu terucap dari mulutku bahwa kamu adalah anak rajin yang jarang sekali melanggar peraturan. Di saat itulah kamu berkata padaku bahwa aku keras kepala dan menyebalkan. Dari hal kecil itulah pertikaian dengan kata-kata terjadi dan menjadi rumit. Aku sendiri tak tahu kenapa, tapi aku merasa ada yang aneh denganmu waktu itu. Aku merasa kamu kembali jadi anak manja dengan sifatmu yang menyebalkan dulu. Aku juga mempertanyakan diriku apakah aku benar-benar memilih orang yang tepat? Pikiran dan hatiku goyah waktu itu.

Aku ragu, ya meragukan semua yang telah kujalani padahal aku tahu setiap resikonya. Entah kenapa..dan lagu Anda – Cukup Dalam Hati berputar berulang-ulang malam itu, sambil terus mempertanyakan semua ini. Mempertanyakan diriku sendiri apakah aku berada di jalan yang benar? Ataukah aku membuat pilihan yang salah? Terlalu banyak pertanyaan dalam diri yang tak terjawab malam itu..

***

Ular besi berhenti sejenak, seorang pedagang masuk ke dalam perutnya yang tidak cukup lebar ini sembari menawarkan dagangannya padaku. Aku menolak, tapi pedagang itu setengah memaksa lantas tak kuhiraukan. Kulihat di sebelahku kedua orang temanku masih hanyut dalam mimpi mereka. Ah, rasanya suasana ini terlalu tenang untukku, aku pun hanyut dalam memori. Saat aku ingin menghentikan diriku untuk mendengarkan lagu, ternyata masih tak sanggup aku menghentikannya. Rasa penasaran mengalahkan diriku untuk menghentikan lagu yang kuputar. Ternyata lagu Avril Lavigne – When You’re Gone yang diputar selanjutnya. Aku tertampar lagi, cukup keras..

***

Setelah perdebatan yang cukup panas itu, kamu dan aku sempat tidak berbicara untuk beberapa saat. Aku masih merasa perdebatan itu tak seharusnya terjadi tapi keadaan mengatakan hal yang berbeda. Hal ini jelas menyebalkan dan itu cukup berpengaruh pada aktivitas yang kujalani. Sedikit kehilangan konsentrasi dalam menjalankan segala aktivitasnya. Tak kutemukan sebuah pesan singkat masuk ketika pagi hari tiba, kata-kata penyemangat yang selalu kau ucapkan untuk memulai hariku. Walaupun ada sisi menyebalkan, tetapi entah kenapa dalam pandanganku kamu itu selalu indah. Ternyata secara tidak aku sadari aku takut kehilanganmu, terlalu takut bahkan.

Aku pun memulai mengirimkan pesan singkat padamu, saat itu kau membalasnya dengan singkat juga. Ah, kamu masih marah padaku rupanya. Aku mencoba meminta maaf tapi aku rasa itu masih belum cukup untuk orang yang cukup keras kepala seperti dirimu. Akhirnya aku mengirimkan pesan singkat padamu “Coba deh dengerin lagunya Avril yang When You’re Gone..semoga aja itu memberi kamu pencerahan :)”. Kamu pun mendengarkan lagu itu dan menyandari pesanku yang aku sampaikan dari lagu itu. Walau kamu tak bercerita padaku tapi aku tahu karena adikmu, yang biasa menjadi tempat curahan hatimu ketika kita berdebat, memberi tahuku. Akhirnya kita berbaikan malam itu.

***

Ular besi melanjutkan perjalanannya menuju negeri di atas kabut. Aku masih saja tak tenang dan jelas semua memori ini tidak membiarkanku untuk memejamkan mata. Apalagi pagi sudah memintaku untuk tak memejamkan mata sampai ia tiba. Sedikitnya aku tersiksa, tapi aku mencoba menikmatinya. Aku pun berdiri lalu berjalan menuju koridor. Kulihat di dekat pintu seorang bapak terlelap dengan posisi kaki terangkat, menghalangi pintu masuk. Aku berdiri sambil terus mendengarkan lagu yang membawa sejuta memori dalam telepon genggamku. Rupanya lagu Naif – Air dan Api, diputar oleh telepon genggamku.

***

Semenjak kamu pindah ke ibukota, entah kenapa sifat-sifatmu mulai berubah. Awalnya aku merasa itu bukan suatu masalah tapi entah kenapa semua itu terasa menyebalkan bagiku. Rasanya ibukota telah merubahmu menjadi seseorang yang tak lagi ku kenal. Kamu bukanlah kamu yang dulu.

Mulailah segala sesuatu yang kita bicarakan seringkali berakhir dengan perdebatan entah kecil ataupun besar. Rasa-rasanya kita seperti air dan api, sama seperti lagu dari Naif. Aku sempat mengatakan padamu dan memberikan lagu itu untuk di dengarkan, kamu pun tertawa kecil. Lantas kita mulai membicarakan lagi hal-hal menyenangkan yang telah kita lalui bersama. Kisah tentang aku dan kamu.

Akhirnya kita mencoba untuk mengurangi perdebatan yang terjadi. Rasa-rasanya semua masalah terselesaikan, padahal itu memicu masalah lain yang sebenarnya ada di balik setiap pertikaian, walaupun aku sendiri tak yakin itulah pemicunya..

***

Kulihat telepon genggamku, baterai masih cukup untuk menemani perjalanku ini dengan ribuan memori yang telah terlewati. Aku berdiri, menerawang jauh entah kemana. Lalu kulihat di sekitarku, tenang dan sepi. Manusia-manusia itu masih berada dalam perjalanan mereka di dunia mimpi. Lalu sebuah lagu diputar oleh telepon genggamku, Sheila On 7 – Dan. Aku benar-benar semakin tenggelam dalam memoriku.

***

Aku merasa tenang bahwa hubungan yang kujalani denganmu tampak baik-baik saja. Beberapa minggu terakhir komunikasi yang terjalin jadi jauh lebih baik daripada sebelumnya. Bahkan hampir tidak ada perdebatan yang terjadi. Setidaknya aku mulai percaya bahwa ibukota tak merubahmu, dan kuharap jangan sampai merubahmu. Lantas pada suatu saat adikmu mengirimkan singkat padaku untuk bertemu, sejenak aku berpikir bahwa anak ini akan bercerita tentang kisahnya. Lantas aku segera bersiap dan meluncur menuju lokasi tempat kami bertemu.

Sesampainya di sana kami pun bercerita panjang lebar, awalnya memang dia bertanya tentang kabar dan bercerita tentang kisahnya sampai pada akhirnya aku memutuskan akan berpamitan. Saat aku ingin pulang, dia menahanku sejenak. Masih ada hal yang belum dia sampaikan rupanya. Lantas aku kembali duduk di kursiku dan dia pun bercerita tentang sebuah kisah yang nyaris tak kupercayai. Dia bercerita bahwa kamu, kakaknya, dekat dengan seseorang yang tak kukenal di ibukota. Lantas dia bercerita tentang banyak hal yang telah kau ceritakan padanya. Tapi entah kenapa aku masih memaksakan diriku untuk yakin bahwa semua baik-baik saja. Baik? Untuk siapa? Aku? Kamu? Orang itu? Kita? Kalian?

Aku berkata pada adikmu bahwa semua akan baik-baik saja, atau setidaknya demikian. Beberapa hari setelah itu saat kita saling berkomunikasi pun semua tampak baik-baik saja. Akhirnya aku pun menanyakan tentang pria dari ibukota yang katanya sangat dekat denganmu itu. Awalnya kamu ragu dan mencoba untuk menutupi itu. Aku akhirnya tak memaksamu untuk bercerita dan percakapan hari itu berhenti pada topik itu.

Beberapa hari kemudian tiba-tiba kamu mengirimkan sebuah pesan singkat padaku, dengan isi yang cukup mengejutkan. “Coba kamu denger lagu Sheila On 7 – Dan”, begitulah pesan singkat yang kau tuliskan. Aku mencoba untuk memahami apa maksud dari semua ini, lalu kubalas pesan singkatmu itu. “Apa maksudnya?” tanyaku dalam pesan singkatku. Lalu pesan singkat balasan darimu kuterima, “Eh, gak papa kok..aku baru ngelantur aja..hehehe”. Dari situlah kemudian timbul rasa curigaku terhadap pria itu, walau kamu tak mau bercerita padaku. Aku tahu betul isi dari lagu yang kau kirimkan padaku, tapi aku tak yakin bahwa semua akan seperti itu. Benarkah bahwa kau seperti yang aku duga? Apakah memang benar bahwa semua ini berubah tanpa aku sadari?

***

Setelah lagu itu berakhir, lantas aku mencari lagu itu. Lagu yang terakhir kali kau berikan padaku sebelum kita memutuskan untuk mengakhiri semua. Untuk lagu selanjutnya tak kubiarkan telepon genggamku yang memegang kendali. Aku mencari lagu itu diantara ratusan lagu yang kuselipkan dalam telepon genggamku, akhirnya kutemukan juga. Lagu itu pun kuputar seiring dengan melajunya ular besi yang berpacu dengan waktu. Lagu itu adalah Jagostu – Mau Tak Mau.

***

Ternyata isu-isu tentang dirimu itu begitu kencang terdengar. Tak hanya aku dan adikmu saja yang tahu, tapi juga kerabat dekatmu. Banyak pula yang bertanya padaku ada apa dengan semua ini dan aku hanya bisa menjawab “Aku tak tahu”. Awalnya memang aku tak menghiraukan isu itu karena aku berpikir semua akan berlalu, tapi ternyata semua menjadi semakin rumit.

Aku pun mulai bertanya padamu tentang semua itu, kau pun selalu menghindar. Entah kenapa tapi kau selalu menghindar dan terus menghindar. Sampai pada suatu saat kamu pun berkata bahwa memang dekat dengan pria itu sebagai teman saja. Aku pun sedikit lega mendengarkan semua itu dan mencoba meluruskan isu-isu yang terjadi. Akhirnya untuk sesaat semua itu bisa diredam. Komunikasi aku dan kamu pun terus berjalan seperti biasa, bahkan kami pun masih menghabiskan waktu bersama saat natal, tahun baru 2011, dan imlek. Semua berjalan dengan semestinya dan indah pada waktu itu. Sampai akhirnya tiba pada bulan kelima di tahun 2011.

Saat itu kamu menelponku, menanyakan kabarku dan segala sesuatunya seperti yang biasa kamu lakukan. Semua berjalan seperti biasa. Tiba-tiba kau berhenti sejenak saat sedang bercerita, tak biasanya kamu melakukan semua ini. Suasana hening pun tercipta di antara kami, aku diam begitu pula denganmu. Ketika aku tanyakan ada apa, kau selalu menjawab tak ada apa-apa. Akhirnya kau pun melanjutkan ceritamu walaupun aku tahu di setiap nada yang kau ucapkan ada sesuatu yang coba kau tahan dan tak kau ungkapkan.

Setelah usai bercerita aku pun bertanya padamu, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kamu pun diam, seakan beku dan tak menjawab pertanyaanku yang aku tanyakan melalui telepon genggamku. Hatiku tak tenang, sungguh rasanya tak pernah seperti ini saat berbicara denganmu. Aku bingung karena kamu tak juga menjawab pertanyaanku. Sejenak aku teringat, lalu aku tanyakan padamu apakah semua ini berkaitan dengan pria yang dekat dengannya. Kamu pun menjawab lirih, “Ya” dari seberang sana.

Sejenak seperti ada cermin dalam diriku yang retak, namun aku masih meyakinkan diriku semua baik-baik saja. Lalu aku tanyakan ada apa antara kamu dan pria itu? Kamu tak menjawab, selanjutnya ada suara isak tangis dari seberang sana dan akhirnya kata-kata itu meluncur dari bibirnya yang manis, “kita berakhir, semua cukup sampai disini ya..”. Aku terdiam, kali ini aku beku.

Cermin dalam diriku itu retak menjadi serpihan dan tersapu oleh ombak kesedihan. Aku bertanya padamu lagi apakah semua ini karena pria itu dan kau menjawab ditengah isak tangismu. Aku terdiam sejenak lalu berkata padamu bahwa jika memang dia yang terbaik maka aku akan membiarkanmu bersamanya karena aku tak cukup baik untukmu. Aku pun berpesan padamu supaya tidak menyesali setiap keputusan yang telah kau buat dan memintamu untuk menjalaninya.

Percakapan itu pun aku tutup dengan ucapan terima kasih untuk semua hal yang telah di lalui bersama dan aku memintamu untuk mendengarkan sebuah lagu dari Jagostu – Mau Tak Mau. Aku tutup pembicaraan melalui telepon genggam itu meskipun aku masih mendengar suaramu yang ingin melanjutkan pembicaraan itu.

Rasanya sudah cukup bagiku. Sejenak aku terdiam, aku memandang ke arah langit dan tak terasa air mataku sudah mengalir deras. Aku kecewa, terluka, namun aku harus terus berjalan..aku masih punya mimpi yang harus aku raih dan aku kuatkan diriku dengan itu. Akhirnya aku menutup malam itu dengan membeli satu kaleng bir dingin dan berteriak di sebuah tanah lapang. Semua aku selesaikan malam itu juga.

***

Tak terasa pagi sudah menampakkan dirinya dari kejauhan. Malam sudah habis rupanya. Aku pun segera membereskan earphone yang aku kenakan untuk mendengarkan lagu. Ku usap air mataku karena ular besi berjalan melambat tanda akan berhenti. Aku kembali pada dunia yang kujalani dan membiarkan memori yang disampaikan oleh setiap lagu berlalu. Aku sudah berjanji pada diriku untuk tetap melaju dan mencapai impianku. Sama seperti perjalanan panjang ini, mungkin ini juga salah satu cara untuk meraih mimpiku.

Bicara soal mimpi, dulu memang kami punya mimpi yang sama tapi sekarang entah dia masih mengingatnya atau tidak aku sendiri pun tak tahu. Satu hal yang pasti, hidup harus berjalan terus dan sama seperti yang dituliskan oleh Eross Chandra dalam liriknya “mau tak mau kuharus, menjaluntkan yang tersisa..meski semua telah berbeda dan tak pernah ada yang sama”.

Ular besi pun berhenti di tanah Pasundan. Lalu lalang di dalam perut ular besi yang sempit ini pun menjadi sangat padat. Namun di tengah padatnya lalu lalang aku berusaha untuk beristirahat. Dua orang temanku sudah terbangun dan saatnya aku menjelajah ke dunia mimpi untuk sejenak. Lalu aku memejamkan mataku, membiarkan diriku merelakan masa lalu yang telah kulewati, dan membayangkan masa depan yang telah kunanti serta hal-hal yang akan aku raih. Aku pun terlelap dalam semua euforia perasaanku itu. Selamat beristirahat masa lalu ku dan selamat pagi masa depan.

*** Fin ***

Masa lalu itu memang penuh dengan segala dinamika dan setidaknya membawa banyak sekali cerita bagi kita. Tapi ketika kita terus tertahan di masa lalu, kapankah kita akan melihat ke depan? Dari masa lalu inilah saya belajar tentang banyak hal, tentang hidup, rasa, saling berbagi, menjalin relasi, dan semua hal yang tak bisa disebutkan satu persatu. Sedikitnya memang ada penyesalan tapi itulah cara menikmati hidup karena hidup tak selamanya manis, kadang dia terasa pahit, asam, bahkan asin. Tapi bukankah karena itulah hidup menjadi menarik? :)

Bersama dengan segelas coklat panas, sekaleng bir dingin, memori, ratusan lagu, catatan-catatan kecil, jurnal perjalanan, dan air mata, tulisan ini dibuat. Semoga kalian semua bisa membangun sebuah relasi dengan baik, meskipun nantinya banyak sekali dinamika yang akan terjadi, tapi setidaknya itulah pelajaran hidup yang bisa di dapatkan. Semoga hari anda semua menyenangkan..Cheers, beers, and move on! :)

Sabtu, 08 Oktober 2011

Ular Besi dan Sejuta Memori (Bagian Awal)

"Life is one grand, sweet song, so start the music." (Ronald Reagan)


Pukul tiga pagi dan aku masih terjaga. Tak bisa terlelap. Ular besi masih terus melaju membawa sejuta mimpi dan harapan. Di saat itulah aku teringat tentang cerita-cerita yang pernah terjadi di masa yang telah lalu. Cih! Masa lalu lagi! Jujur ini sedikit memuakkan, tapi inilah cara hidup menjalankan segala rencananya. Perlahan tapi pasti ular besi terus melaju membawa sejuta mimpi yang berbeda tiap waktu. Aku masih ingat tentang sebuah kisah di ruang ini, ruang berisi seratus orang (mungkin?) atau aku malah baru akan mengingatnya?

Kumelihat disekelilingku semua tampak beku. Terlelap dalam mimpi masing-masing. Jelas semuanya terlelap, waktu sudah meminta mereka memejamkan mata. Aku? Waktu tak memberikan itu padaku! Sedikit kejam memang, tapi aku menikmatinya. Dia memintaku untuk terus berjaga, menemaninya menunggu matahari tiba dari perjalanan panjangnya. Sejenak kubuka album lama berisikan deretan lagu yang telah kususun dalam telepon genggamku. Jumlahnya sudah ratusan, bahkan tak bisa kuhitung.

Mataku masih menjelajah, mencoba mencari latunan nada yang pas dimainkan disaat semua tampak beku seperti saat ini. Lalu lagu itu seakan muncul dengan sendirinya dari deretan lagu itu, Endah n’ Rhesa – Wish You Were Here. “Lagu ini..” gumamku tapi tak ada kata-kata lain yang bisa ku-ucapkan. Segera saja kuputar lagu itu dan terbukalah kepingan-kepingan lama dalam memoriku tentang ular besi, perjalanan, jarak, penantian, dan kamu..

***

Aku ingat waktu pertama kali kepergianmu. Ular besi berwarna putih yang jadi pengantarmu menuju ibukota, tempat yang tak terlalu kau sukai. Waktu itu malam telah cukup larut dan kita juga ikut larut dalam suasana haru yang tak bisa terungkapkan dengan sebuah nada saja. Waktu itu kau berujar padaku bahwa kau tak ingin tinggalkan kotamu ini, kota yang telah membesarkanmu dan mempertemukan dirimu denganku. Saat itu aku mencoba untuk menyakinkanmu, bahwa kamu punya tujuan untuk meraih anganmu di ibukota dan bukan semata-mata untuk bermain atau vakansi semata.

Kamu bilang padaku waktu itu, “aku benci ibukota”, dan aku paham benar dengan itu karena aku juga membencinya. Kita berdua hanyut dalam perdebatan tentang kepergianmu ke ibukota. Saat kau mulai merasa hampir tak sanggup untuk melangkah disaat itulah dalam dekapanku kau menenggelamkan rasamu dan berusaha untuk menutupi isak tangismu. Kau pergi malam itu menuju ibukota, tempat dimana kau mau meraih anganmu.

***

Lampu koridor ular besi ini masih menyala, cukup terang malah. Aku masih memangku tas carrier-ku, cukup berat memang untuk ukuran tubuhku yang tak kunjung gemuk ini. Sedikit tersadar akan lamunanku ternyata lagu telah habis diputar. Kucoba untuk mencari lagu lain dalam deretan lagu yang telah kususun dan aku menemukan lagu lain yang cukup menampar ingatanku tentang kamu, Bangkutaman – Ode Buat Kota.

***

Waktu itu kau bercerita padaku lewat telepon genggam, masih cerewet dan galak seperti biasanya. Satu rasa yang aku tahu ada diantara kita : rindu! Kau bercerita padaku tentang sebuah band indie asal Jogja yang memutarkan lantunan nada meng-kritik keadaan ibukota yang makin gila. Bangkutaman, ya itulah band yang kau perkenalkan padaku waktu itu. Awalnya aku dan telingaku belum bisa memahami musik ini, sampai pada lagu Ode Buat Kota. Lagu ini menjadi lagu favoritmu yang selalu kau putar ketika kau penat dengan kondisi ibukota dan saat kau merindukan aku. Sampai pada lagu ini, telingaku seakan jatuh cinta dan menerima setiap nada dan lirik yang dilantukan. Benar katamu, aku akan menyukai lagu ini. Lagu kesukaanmu, lagu kesukaan kita, lagu tentang betapa penat dan menyebalkan ibukota di mata kita.

***

Rupanya lagu sudah berhenti berputar. Kulihat keluar jendela, masih gelap. Tiba-tiba ular besi berjalan perlahan, melambat lalu berhenti. Sejenak kemudian terdengar sayup-sayup suara mulai membahan di koridor. Lalu lalang manusia seketika itu pula menjadi sedikit gila. Ada yang menjajakan tahu, segelas kopi, bahkan tembakau untuk dihisap. Sayangnya aku sudah berhenti menghisap tembakau. Aku ingat kau pernah menyindirku dengan sebuah gambar bergerak dari the S.I.G.I.T yang berjudul Black Amplifier versi akustik. Lagu ini pula yang berputar di telepon genggamku.

***

Tembakau, sahabat dalam setiap aktivitasku waktu itu. Aku tahu kamu tak menyukainya tapi tak juga melarangku, bahkan hanya tersenyum. Aku juga tak mau menghisap tembakau di hadapanmu, asapnya selalu mengganggumu. Lalu suatu saat kamu datang padaku dan menegurku. Kamu memberikan aku sebuah gambar bergerak dari band indie yang sedang aku dengarkan waktu itu, the S.I.G.I.T. Aku sangat tergila-gila dengan musiknya pada waktu itu.

Waktu aku melihat gambar bergerak dari band ini, rasanya kamu menamparku dengan cara yang cukup halus. Aku tahu kamu memintaku untuk berhenti menghisap tembakau, tapi dengan ilustrasi dari gambar bergerak yang ditampilkan band itu. Satu kata yang bisa aku katakan waktu itu : cerdas! Tak lama pesan singkat darimu masuk. Kau berkata “Selalu jaga kesehatanmu jelek!”. Aku terdiam sesaat, kumatikan tembakauku yang sudah kuhisap setengah jalan. Kubalas pesan singkatmu itu dengan sangat singkat “:)”.

***

Ular besi kembali sepi karena sudah akan berjalan lagi, melanjutkan perjalanannya membawa ratusan mimpi yang ada dalam ruangan ini. Sejenak rasanya aku ingin berhenti untuk mendengarkan lagu. Cukup tertampar aku dengan lagu-lagu yang berputar. Semua ini membangkitkan kenanganku yang sudah kulalui bersamamu. Jauh dari kata mudah, tapi aku tak bisa untuk menghentikan diriku melanjutkan mendengarkan latunan nada-nada itu. Lalu lagu Coldplay - Yellow mulai berputar. Lagi-lagi aku hanyut dalam suasana..

***

Kamu bercerita padaku waktu itu,kamu penat akan semua bebanmu disana. Aku mencoba untuk memberikanmu semangat tapi kamu berkata bahwa semua itu percuma kalau aku tak ada disampingmu. Telepon genggam rasanya tak cukup untuk menghubungkan kita dan kamu ingin aku ada disana, disampingmu saat itu. Lagu kuberikan padamu sebuah lagu, Coldplay yang berjudul Yellow. Di saat itulah kau bertanya padaku mengapa aku memberikan lagu ini padamu.

Aku cuma bisa berkata bahwa bayangkanlah lagu ini adalah aku, yang akan menemanimu untuk melalui semua bebanmu. Aku bisa mendengar suaramu yang tadinya menggerutu kembali ceria dan tetap manis seperti biasanya. Kamu bilang padaku bahwa semangatmu telah muncul lagi dan berharap kita segera bertemu, ya segera..

***

Kisah ini tak berhenti sampai disini, mau tahu kelanjutannya? Ikuti dan pantau terus ya..:)

Bersama dengan segelas coklat panas, air putih, keheningan, dan beberapa bulir air mata tulisan ini dibuat..Semoga hari anda menyenangkan..Cheers and Beers!

Senin, 30 Mei 2011

Balada Alpha dan Omega

“Wajah ganteng, uang banyak, mobil bagus, tapi hati busuk itu sama dengan nol besar” (SAWOT)


Terlalu sibuk dengan dinamika yang ada membuat saya lupa untuk mengunggah cerita-cerita baru di blog ini, namun kini saya kembali dengan banyak cerita. Ada berita yang menarik untuk saya tuliskan di blog ini, buruk dan baik. Berita mana yang anda mau dengar? Tentu saja pasti yang baik akan jauh lebih menyenangkan, tapi lebih baik diawali dari yang buruk dulu saja. Kenapa yang buruk? Karena cerita film-film Hollywood rata-rata berakhir bahagia..he-he-he..

Oke, berita buruknya adalah saya mengakhiri hubungan saya dengan Ms.Dreams secara resmi. Kami berdua resmi berpisah karena alasan yang cukup menyakitkan sebenarnya : orang ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh, kedelapan, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan..(eh? kok malah senam ya?). Maksud saya hanya ada orang ketiga, yang keempat dan seterusnya fiktif semata. Orang ketiga ini memang cukup berbahaya, bahkan bisa dibilang orang ini adalah gulma di padang rumput, batu karang di perjalanan, dan rumput berduri ditengah padang rumput. Menganggu dan merusak segalanya.

Awalnya memang tidak ada ke-khawatiran atas semua ini, saya juga membiarkan dia berjalan dengan, ya sebut saja, Mr.Monkey-lah. Tapi makin lama, Mr.Monkey ini makin berbahaya. Tidak hanya mengajari Ms.Dreams untuk makan pisang, tapi juga pokki rasa pisang (Lho?! Maksudnya??). Tidak hanya itu, Mr.Monkey ini juga mulai “menyimpangkan” hubungan saya dengan Ms.Dreams.

Secara fisik, Mr.Monkey ini memiliki tampilan yang (katanya) istimewa. Wajahnya tampan bak artis-artis (figuran) jaman sekarang. Uang pun melimpah, walau saya tahu pasti itu uang orang tua yang kemudian dihambur-hamburkan begitu saja, tapi itu bukan masalah : dia kaya. Mobil, jelas tidak perlu ditanyakan lagi, begitu elegan,eksotis,dan yang jelas itu bukan mobil dengan harga yang “murah”..tampilannya begitu menggoda, begitu luar biasa..ah, Seraa! (Lho?!). Dari ketiga hal ini, kekalahan telak menjadi milik saya dan itu sudah jelas terlihat dengan kasat mata. Saya mengakui itu dengan lila legawa (ikhlas).

Tapi secara hati, jelas Mr.Monkey ini bukanlah orang yang baik menurut saya. Berdasarkan hasil dari track record-nya, jelas pria ini bisa dilabeli sebagai pria yang kurang tepat untuknya (maaf bukan menjelek-jelekkan, kenyataan berbicara :D). Hatinya busuk walaupun tampilan fisiknya bagus, begitulah gambaran yang bisa terlihat.

Secara hati jelas untuk Ms.Dreams sangat istimewa. Saya jelas memberikan segala sesuatu yang terbaik untuknya, tak pernah setengah hati menjalankan semuanya, dan tak pernah bermain-bermain dengan segala keputusan. Perpaduan inilah yang membuat saya bisa melabeli diri bahwa hati saya “istimewa”. Selain itu, perpaduan dari rempah-rempah terbaik, dicampur biji kopi pilihan, dan tanaman-tanaman palawija di bumi nusantara menghasilkan perpaduan yang luar biasa yaitu Gantengin! (Halah!).

Jelas mungkin ini sedikit narsis, kenyataan berbicara lain memang. Konsep “istimewa” hati saya tak bisa mengalahkan konsep “hampir sempurna” secara fisik dari Mr.Monkey dari sudut pandangnya (mungkin?). Jelas saya kalah secara telak dan inilah kenyataan bung!

Sebenarnya ketika mau bertanya apakah hal ini menyakitkan dengan mantab saya akan menjawab “Ya!”, tapi hal ini bukanlah sebuah alasan untuk jatuh dan meratapi nasib. Jelas mungkin kenyataan memang pahit sekarang ini, tapi di masa mendatang siapa yang tahu? Saya sendiri tetap menyikapi ini dengan sewajarnya, tidak terlalu sedih dan senang. Bahkan saya tidak tahu apakah saya harus tertawa keras atau menangis sedu. Tapi semua itu terdengar konyol dan sangat menyedihkan jika diratapi.

I forget Jakarta/ All the friendly faces in disguise/ This time, I’m closing down this fairytale. Ada hal yang benar dari lirik lagu Adhitia Sofyan, Forget Jakarta, mungkin inilah saat mengucapkan selamat tinggal pada kenangan 5 tahun bersama. Menghapusnya seperti men-delete sebuah folder? Terlalu banyak hal yang indah untuk “dibakar” dan dilenyapkan berkaitan dengan kenangan saya, kamu, dan Jakarta. Mungkin dongeng ini hanya akan ditutup tapi tidak diakhiri. Mengakhiri dongeng yang sudah saya “ceritakan” selama 5 tahun tampaknya sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Apakah ada kemungkinan saya kembali? Masih banyak kemungkinan. Mungkin, mungkin, dan mungkin untuk sekarang ini.

Itulah berita buruk yang saya bawa dan masih tersisa berita baik-nya. Apakah berita itu? Seberapa bahagiakah berita itu? Saya akan menjawab mungkin ada sebuah titik terang ketika kegelapan ini muncul, sebuah pencerahan untuk memulai sesuatu yang baru.

Berita baiknya adalah saya tetap menjalankan hidup seperti biasanya, seakan-akan semua ini tidak terjadi. Saya menjalankan hidup ini dengan tegar, penuh semangat, dan senyuman pada setiap momennya. Untuk masalah relasi? Ternyata juga ada pencerahan. Sebut saja orang ini Ms.Princess, dia adalah salah satu orang manis dan tidak terlihat membosankan yang pernah saya temui.

Ms.Princess dan saya memang belum berkenalan dalam jangka waktu yang bertahun-tahun, tapi setidaknya sudah saling tahu informasi standar pada umumnya. Perkenalan diri dan percakapan singkat. Tapi entah kenapa saya merasa ada sebuah dinamika menarik yang akan saya temui dengan orang ini. Sejauh apa dan bagaimana, sampai tulisan ini diturunkan semua ini masih berlanjut.

Seperti apakah kisah kelanjutannya? Nantikan saja di cerita berikutnya, yang jelas tidak akan saya ceritakan di kisah ini. Dalam kehampaan hati, dinginnya malam, dan keheningan yang memekakan telinga (wuss, bahasanya!) tulisan ini dibuat..Semoga hari anda semua menyenangkan dan anda semua mampu untuk berjalan ditengah kerasnya badai atau ombak..Cheers!

Kamis, 05 Mei 2011

Sebuah Surat (Labil) Dari Masa Lalu

“Sometimes the heart sees what is invisible to the eye.” (H. Jackson Brown, Jr.)


Beberapa hari ini saya sempat iseng membuka folder-folder lama di laptop dan menemukan banyak dokumen menarik. Mulai dari cerpen-cerpen yang saya buat sewaktu duduk di bangku SMA sampai dengan surat-surat yang pada waktu itu saya buat. Saya menemukan sebuah surat, cukup lawas memang, permintaan maaf pada Ms.Dreams.

Surat itu merupakan surat minta maaf karena pada waktu itu saya dan dia sedang bertengkar karena ada beberapa masalah. Setelah di baca dan diamati lagi saya menyadari satu hal, betapa labilnya saya pada waktu itu. Tapi semua orang memang bisa menjadi labil dan itu merupakan hal wajar dan manusia. Penasaran dengan isi suratnya? Inilah surat yang saya buat ketika saya masih labil..:)

Dear Ms.Dreams,

Hey, apa kabar kamu disana? Udah berapa lama kita gak ngobrol ya? Semenjak kita berantem waktu itu kamu jadi gak mau ngomong sama sekali sama aku. Jujur aja aku khawatir lho, sumpah mati kesamber gledek! Aku bener-bener bingung, gak bisa makan dan tidur dengan tenang. Dalam pikiranku Cuma satu, kamu!

Kenapa sih kita masih diem-dieman kayak anak kecil gini? Mbok kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik, ngobrol dengan enak, dan masalah pun beres. Aku beneran takut kalo ini semua berlanjut dan kita mengucapkan kata yang paling gak enak itu. Aku gak mau kata “putus” itu keluar dan mengakhiri semua.

Oke, aku tau aku salah sama kamu. Aku salah karena udah marahin dan mungkin membuat kamu kecewa dengan kata-kataku. Jujur waktu itu aku emosi dan cemburu buta. Aku cemburu liat kamu sama cowok itu! Sumpah! Rasanya aku gak terima kamu jalan bareng sama cowok itu!

Aku tahu kalo dia itu temenmu, tapi apa salah kalo aku cemburu karena itu? Aku juga punya rasa cemburu. Aku tau apa yang jadi prasangkaku itu gak dewasa, konyol, dan gak masuk akal. Semua itu aku lakuin karena aku sayang sama kamu!

Aku harap dengan surat ini kamu bisa maafin aku, kita bisa ngobrol lagi kayak sebelumnya, dan hubungan ini bisa kembali kayak sebelumnya. Maafin aku yang udah salah sama kamu. Aku berharap kamu bisa ngerti dan mau maafin aku. Kalo memang kamu gak bisa terima itu, aku siap nerima apapun keputusanmu. Sekali lagi maafin kebodohanku.

Dari orang yang sayang denganmu

Surat ini mungkin juga bisa menjadi bukti bahwa dalam suatu masa kita pasti punya masa labil. Saya tidak percaya dengan orang yang tidak mengalami masa labil dalam hidupnya. Labil itu bukan dosa, itu adalah sebuah keadaan yang memang terjadi dan harus kita hadapi.

Bersama dengan kegalauan masa lalu, memori lucu, percakapan saya dan dia, dan segelas coklat panas tulisan ini dibuat..Semoga hari anda menyenangkan!...Cheers!

Rabu, 04 Mei 2011

Bukan Sebuah Halangan Untuk Tetap Maju ke Depan!

“Terkadang maut itu begitu dekat, hangat..sampai kita tak tersadar kita larut di dalamnya..tapi sanggup kah kita menjadikannya teman?”(SAWOT)


Halo blog! Lama sekali saya tak berbagi cerita denganmu. Banyak hal terjadi belakangan ini, termasuk kondisi fisik yang masih naik turun. Beberapa kali sempat mengalami kambuh penyakit lama. Sakit yang saya derita ini memang cukup mempengaruhi kegiatan yang berlangsung pada waktu itu, sekarang sudah lebih baik.

Pernahkah kalian membayangkan tentang kematian? Orang-orang menggambarkan kematian sebagai sesuatu yang dingin, mengerikan, dan kejam. Benarkah demikian adanya? Apakah memang kematian itu sebegitu mengerikannya? Saya membayangkan hal ini karena sakit yang saya derita. Berlebihan? Tergantung bagaimana orang menanggapinya.

Mungkin ketika kita melihat film animasi pendek Happy Tree Friends, kematian digambarkan dengan gambar-gambar yang "lucu" menurut versi mereka. Sebagian orang menganggap itu sebagai sesuatu yang mengerikan dan sebagian lagi menganggap itu konyol. Sama seperti ketika kita melihat kematian dari sudut pandang masing-masing orang, tidak semua beranggapan sama.

Semua ini berawal dari sakit yang saya derita. Ini sudah terjadi semenjak saya kelas 3 SMA pada waktu itu. Saya sempat mengalami sakit pukul 3 pagi dan sempat dilarikan ke rumah sakit. Hasilnya memang cukup membuat saya tercengang dan takut setengah mati. Pada waktu itu saya sempat berkata dalam diri saya "Gusti, aku emoh mati sekarang..jangan yo.."

Sakit saya ini melebihi siksaan lahir batin ketika mendengarkan SM*SH konser tunggal selama 2 jam. Bahkan lebih buruk daripada konser non-stop Justin Bieber selama 24 jam. Cenat-cenut, cekat-cekot, semua saya rasakan. Beberapa kali memang masih harus diberikan obat pereda rasa nyeri untuk mengurangi rasa sakit yang terjadi.

Rasanya cukup tersiksa, namun saya harus tetap bertahan. Kondisi ini tidak membuat saya mau untuk datang ke rumah sakit dan menjalani semua layaknya orang sakit. Saya sehat. Rasa sakit itu datang sesaat dan saya sudah bisa mengendalikan rasa sakitnya.

Mungkin, hal ini akan berbeda ketika saya tak memiliki orang-orang yang luar biasa di sekeliling saya. Mereka yang menguatkan saya untuk tetap bertahan. Saya juga berkata dalam diri saya sendiri, “hey, saya belum melakukan sesuatu yang berarti bagi kehidupan ini. Saya ingin memberikan sebuah perubahan walau sedikit saja!”. Mungkin hal yang saya lakukan di masa mendatang nanti lebih dahsyat dari fenomena Justin Bieber..:)

Saya tetap ingin menatap masa depan. Kondisi fisik ini mungkin memang cukup menganggu, tapi saya mencoba melawan itu. Masa depan nanti masih panjang dan saya yakin, suatu saat saya akan menjadi bagian dari perubahan yang terjadi di masa depan.

Bagi kalian yang merasa ingin mengakhiri hidup kalian atau menyerah pada keadaan, kalian tak lebih baik daripada SM*SH, Justin Bieber, ataupun fenomena yang cukup ajaib di masa sekarang. Hargailah kehidupan yang telah Tuhan berikan pada kalian. Kematian bukanlah solusi, harapan dan perjuangan adalah jawaban..:)

Bersama dengan sebuah refleksi hidup, keheningan, dan kesunyian tulisan ini dibuat..semoga tulisan yang cukup berat ini (?) menjadi renungan bagi yang membacanya..semoga hari anda menyenangkan!..Cheers!

Senin, 04 April 2011

Wanita Luar Biasa (Menurut Versi Saya)

"Tidak ada wanita yang tidak hebat di dunia ini, dan Ibu saya termasuk di dalamnya" (SAWOT)


Hey dunia imajinerku, apa kabar? Lama sudah kita tak bersua dan saya sangat rindu untuk berbagai cerita-cerita baru yang saya punya. Belum lama ini saya memikirkan sebuah memori masa lalu, yang membuat saya merindukan pagi penuh kenangan.

Selayaknya anak-anak lelaki di dunia ini, jelas bahwa saya juga memiliki selera tersendiri ketika menyangkut masalah wanita. Tipe-tipe tersendiri jelas hanya saya yang tahu persisnya seperti apa dan bagaimana, yang jelas biarkan itu jadi privasi. Saya memang suka ketika melihat wanita (terutama ketika orang itu cantik, he-he-he) karena saya menganggap mereka adalah sosok yang luar biasa. Tapi hanya beberapa orang yang kemudian membuat saya merasakan sesuatu yang “berbeda”

Mereka “berbeda”, ya mereka memang super. Jika diibaratkan nasi goreng, mereka adalah nasi goreng spesial yang menggunakan telur, abon, dan kornet. Tidak banyak wanita yang kemudian saya rasa begitu istimewa.

Berikut ini adalah sosok wanita yang luar biasa (menurut saya) yang pernah saya kenal sepanjang saya hidup selama hampir dua puluh tahun di dunia

Pertama (Pertamax kalo bahasa Kaskusnya), Ms. Shy

Saya memberikan nama pada gadis ini Ms. Shy, dia begitu pemalu bahkan mungkin ketika bertemu dengan saya jarang sekali mengatakan banyak hal. Satu hal yang menarik dari dia adalah senyumannya, entah kenapa bisa membuat saya merasakan sesuatu yang berbeda semacam dag-dig-dug serr di dalam dada.

Saya bertemu dia pertama kali waktu ada acara tanam pohon semasa SMA dulu. Saya satu bus dengan dia. Awalnya saya hanya tidur sepanjang perjalanan tapi saya menjadi tidak bisa tidur karena senyumannya. Menarik hati? Saya jelas akan mengatakan, iya!

Saya sesekali mengontak dia, dan mencari banyak informasi tentang dirinya. Layaknya seorang remaja yang menyukai gadis pada umumnya, saya berusaha mati-matian untuk mencari gadis ini. Saya menemukan banyak info, tapi dia terlalu “tinggi” untuk saya raih.

Pada akhirnya saya cuma bisa memandangnya dari kejauhan dan jadi pemuja rahasianya. Kenapa? Karena sekarang dia sudah memiliki pacar, begitupun juga saya. Sayang sekali memang. Sampai kapan saya memujanya? Entah, saya sendiri juga kurang tahu sampai kapan, hanya Tuhan dan saya yang tahu semua jawabannya :)

Kedua (Keduax, kalo bahasa Kaskusnya), Ms. Twitter

Saya pertama kali kenal dengan Ms. Twitter ini berawal dari situs jejaring sosial yang bernama twitter. Dia adalah MVP DBL tahun 2010 dari salah satu sekolah swasta yang berisi perempuan di Yogyakarta (halah! kayaknya yo udah pada tahu). Orangnya ramah dan sangat bersahabat.

Selayaknya anak-anak muda yang masih berusia belia, dia mengakui bahwa dirinya masih sering galau. Saya melihat itu sebagai sebuah kewajaran. Tapi dibalik itu semua sebenarnya ada beberapa hal yang membuat saya terkesan dengan Ms. Twitter ini.

Saya mengagumi dia karena pikirannya yang terkadang tak mudah untuk ditebak. Seringkali pemikiran dan prinsipnya jauh melebihi usianya yang masih belia karena dia jauh lebih muda dari saya (oke, saya mengakui saya TUA!). Seringkali saya dibuat kagum oleh pemikiran, prinsip, dan keputusannya.

Sekarang ini dia sedang menjalin hubungan dengan anak dari SMA swasta tempat saya dulu bersekolah. Saya juga ikut berbahagia untuk dia, menurut saya ini adalah buah manis dari setiap dinamika hidup yang dijalaninya. Selamat menempuh dinamika baru Ms. Twitter :)

Terakhir, Ms. Dreams :)

Yap, dia adalah gadis yang saya selalu ceritakan di blog ini untuk banyak kali, bahkan mungkin membuat kalian bosan. Dia adalah salah satu dari wanita hebat yang saya temui sejauh ini. Bukan, saya bukan membanggakan dia, tapi inilah kenyataan yang saya rasakan.

Senyumannya selalu membuat saya lupa dengan segala beban yang saya lalui. Kata-katanya selalu memiliki makna mendalam yang dapat saya cerna. Tatapan matanya tak seindah kristal, tapi itulah yang membuatnya jadi berarti di mata saya. Dia selalu ada untuk menopang mimpi yang saya miliki, untuk selalu maju dan menjadi lebih baik. Tak pernah berhenti memberikan dukungan di kala saya jatuh. Selalu membuat saya merasa berarti dan membuat dinamika hidup ini menjadi lebih bermakna.

Konflik yang sesekali terjadi memang menjadi bagian yang tak terpisahkan diantara kami, tapi itulah resep sehatnya sebuah hubungan menurut pandangan saya. Selalu mencoba untuk menyelesaikan segala masalah dengan kepala dingin, walau pun kadang ego masih mendominasi.

Bersama dirinya, saya merasa mendapatkan sebuah proses pendewasaan yang lebih jauh. Belajar untuk bertanggung jawab dengan segala keputusan yang dijalani bersama. Saya selalu berharap yang terbaik bersama dia, tapi Tuhan yang memutuskan semuanya.

Tampaknya sekian dulu untuk kali ini, beberapa tulisan akan segera menyusul untuk dirilis. Bersama dengan keheningan malam dan sebuah hari yang indah tulisan ini dibuat..Semoga hari anda menyenangkan..Cheers!

Kamis, 03 Februari 2011

Februari, Merah, Imlek, dan Valentine

"Sejauh apapun kamu berlari dan berusaha untuk menjauh, kamu akan selalu kembali ke dia dan begitu pula sebaiknya" (Mama)


Halo blog dunia saya, sudah berapa lama kita tak lagi bertegur sapa? Ah, Januari saya kurang produktif karena berbagai acara sampai tak terasa Februari telah berganti. Januari entah kenapa kurang ramah dengan saya, tapi Februari benar-benar membuat saya tersenyum lebar setelah lama tidak melakukannya.

Jujur, quotes mama saya diatas itu sudah dikatakan dua setengah tahun yang lalu. Sudah lama sekali memang, tapi kenyataan itu masih berlanjut sampai sekarang. Saya selalu menyebut gadis ini Ms. Dreams. Dia adalah gadis yang mendekati sempurna yang pernah saya temui. Tiga tahun kami pernah menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Yang jelas dia adalah orang yang benar-benar tahu saya luar dalam.

Sayangnya hubungan kami berakhir dengan cara yang "lucu". Tapi efek LDR memang cukup punya pengaruh besar pada waktu itu. Kami masih muda, ego dalam diri waktu itu masih sangat keras walau kami tahu dalam diri kami masing-masing rasa "berbeda" itu masih kuat. Sempat kehilangan kontak selama beberapa bulan, ibunya lah yang secara tidak langsung mendekatkan kami berdua lagi. Akhirnya hubungan kami berdua menjadi renggang kembali.

Tapi selalu ada keganjilan di antara kami berdua. Di saat saya ingin mencoba berhubungan dengan orang lain, ujung-ujungnya kembali lagi ke dia. Begitu pula sebaliknya, dia juga mengalami hal yang sama. Kami selalu menjawab "Belum punya pacar, masih menikmati hidup" ketika kami bertemu dan mengobrolkan banyak hal, sama dengan apa yang pernah kami lakukan dari dulu sampai saat ini.

Sampai pada akhirnya semua itu mencapai hampir klimaks di bulan Februari ini. Dia memang merayakan imlek karena masih memiliki garis keturunan yang kuat. Dia juga sangat suka ketika imlek datang, bukan karena angpao, tapi karena warna merah. Saya tidak pernah bosan mendengarkan "dongeng"-nya tentang warna merah ketika imlek tiba dan sudah lima tahun ini cerita tentang warna merah ini begitu menarik.

Tiga tahun sewaktu kita masih bersama, dia selalu berkata :
"Eh, aku selalu suka warna merah"
"Kok bisa?"
"Soalnya warna merah itu dipercaya membawa keberuntungan"
"Bukannya emang dari dulu iya ya?"
"Iya"
"Terus?"
"Aku harap, merah ini juga membawa keberuntungan buat kita"
"Ya, semoga saja"
"Semoga ada tahun-tahun berikutnya juga untuk kita lalui, setelah semua yang terjadi"
Dan inilah inti dari kata-kata dan "dongeng"-nya selama tentang warna merah saat imlek tiba. Saya pun selalu antusias untuk mendengarkan hal itu.

Tahun keempat semua menjadi berbeda, karena kami sudah tak lagi berhubungan pada waktu itu. Dia pada waktu itu mengatakan :
"Tahun ini, aku kurang begitu suka dengan warna merah..Merah ternyata nggak membawa keberuntungan sebesar yang aku harapkan. Aku rasa kamu akan setuju dengan hal itu"
"Dongeng" tahun keempat inilah yang paling tragis yang dia ceritakan tentang warna merah. Pada waktu itu saya cuma bisa tersenyum pahit.

Tahun kelima ini tampaknya harapan dan keberuntungan kami berdua cukup baik. Kami sudah kembali ke dinamika tiga tahun yang sempat terhenti selama satu tahun beberapa bulan. Imlek tahun ini pun saya kembali menemaninya lagi ketika dia merayakan Imlek. Dia men-"dongeng" lagi tentang warna merah. Dia mengatakan :
"Ternyata aku salah ketika membenci warna merah, ternyata warna merah itu benar-benar berkesan dan tidak bisa hilang begitu saja. Kita nggak mungkin juga memisahkan warna merah dari Imlek. Iya kan?"
Entah kenapa saya tahu maksud dari kata-katanya. Dia "menampar" saya dengan kata-katanya itu untuk segera terbangun. Saya cuma bisa tersenyum, senyuman termanis yang selalu saya berikan padanya.

Kemarin dia mengajak makan malam beserta keluarganya. Dia mengajak saya dengan nada yang sedikit berbau ancaman juga sebenarnya (hahaha, saya tahu dia membaca ini dan mungkin setelah ini saya bakal di jewer). Entah kenapa saya juga tidak bisa menolak, dan rencana yang sudah saya jadwalkan sebelumnya saya tunda dulu untuk hal yang satu ini.

Saya iseng bertanya pada dia, "Lho, kamu nggak ajak pacarmu aja Imlek-an to?" dan dia menjawab "Pacar? Orang aku sampe sekarang aja gak punya pacar". Saya melanjutkan "Kenapa gak nyari aja?" dan dia menjawab singkat "Soalnya baru nunggu". Saya mencoba bertanya lagi tapi dengan nada iseng "Oh nunggu? selamat ya udah punya pacar baru", dia memasang muka jengkel dan menjawab "Iya nunggu, orangnya bodoh dan gak sadar-sadar kalau aku nunggu dia" sambil melihat ke arahku. Saya terdiam sejenak, merasa dibangunkan dengan cara yang cukup "keras". Sindiran yang sangat mengena.

Saya mencoba melanjutkan dengan sedikit menggodanya, saya bertanya "Orangnya bodoh banget ya pasti?" dia langsung menjawab "Iya bodoh banget!" sambil memandang saya untuk kedua kalinya. Saya ditampar lagi untuk kedua kalinya. Lalu saya iseng berkata "Walau bodoh, tapi pasti kamu suka orangnya kan?" dan wajahnya memerah, dia menjawab "Iya, terserah deh.."

Dari percakapan inilah saya sebenarnya cukup tertampar. Saya memang sudah "terbangun" sebelumnya. Saya menyadari bahwa mimpi ada pada dirinya untuk saat ini, maka dari itu saya memanggilnya Ms. Dreams. Disini saya tidak akan menceritakan apa saja yang terjadi ketika makan malam berlangsung, itu terlalu privasi untuk di ungkapkan :)

Satu hal yang pasti adalah merah itu berkesan dan ia meninggalkan kesan yang cukup kuat selama lima tahun. Mimpi adalah hal penting yang selalu dia bawa. Menanti, membantu, dan selalu ada untuk laki-laki bodoh yang selalu mengejar mimpinya. Valentine tahun ini mungkin akan menjadi merah, berkesan dan kami tak akan melupakannya. Semoga saja demikian :)

Bersama dengan tenangnya pagi, harmoni alam, suara kicau burung, dan perasaan tulisan ini dibuat..Semoga hari anda menyenangkan dan Februari menunjukkan keramahannya pada anda..Cheers!

Jumat, 21 Januari 2011

Sebuah Awal Cerah di Bulan Pertama Tahun yang Baru

“Mungkin benar, dinamika awal tahun bukanlah sesuatu yang buruk untuk dilalui..bukan begitu?” (SAWOT)



Ah, sudah berapa lama saya tak meng-update blog ini? Mungkin sudah cukup lama hingga saya sendiri lupa kapan terakhir kali tulisan di blog ini diperbaharui. Kali ini banyak segudang cerita yang saya dapatkan, jelas tidak bisa dijelaskan hanya dalam satu tulisan tapi inilah salah satu cerita yang saya dapatkan di bulan Januari 2011.

Januari, bukan ini bukan lagu dari band Gigi tapi ini realita. Entah kenapa dinamika pada tanggal ini begitu indah. Banyak hal terjadi di hari ini dan dengan semua dinamika ini saya merasa setidaknya hidup lagi setelah sempat mengalami kekeringan.

Dimulai dari percakapan bodoh dengan seorang teman mengenai jodoh dan kawan-kawannya. Entah kenapa semua itu berlanjut dengan seseorang yang belum lama saya kenal tapi setidaknya ada dia mengisi kekosongan dinamika yang saya cari.

Orang ini, sebut saja dia Ms. January, memang belum terlalu lama mengenal saya. Tetapi entah kenapa saya merasa dinamika kosong saya terisi saat kami berdua bercakap-cakap lewat pesan singkat melalui telepon genggam kami masing-masing. Entah dia merasakan hal yang sama atau tidak, saya juga tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi..

Ms. January membuat kotak surat di telepon genggam saya tidak lagi sepi. Selalu saja ada hal-hal yang membuat kami berdua bisa bercakap-cakap walaupun mungkin itu percakapan yang aneh dan sulit dimengerti, sama seperti saya.

Entah, apakah puzzle saya ini bisa dipecahkan olehnya atau tidak. Bukan pesimistis, tapi mungkin juga puzzle saya itu terlalu sulit untuk dipecahkan oleh orang-orang banyak. Hanya beberapa orang yang benar-benar mengenal saya dari kepingan-kepingan puzzle yang mereka susun.

Setidaknya sejauh ini, sampai detik ini, ms. January memberikan sebuah dinamika baru yang mungkin sudah satu tahun hilang dari kehidupan saya. Saya hanya ingin terbang, tetapi tidak terlalu tinggi karena ketika jatuh akan menyakitkan. Saya tidak ingin berkespektasi lebih, hanya ingin menjalani semua ini dan membiarkannya mengalir. Semoga saja ada sebuah akhir yang baik antara saya dan dia.

Bersama dengan jejalan-jejalan keributan hari, kamar yang sepi, dan sedikit resah tulisan ini dibuat..Semoga hari anda menyenangkan..Cheers!

Selasa, 04 Januari 2011

Dunia Maya dan Sebuah Dinamika

"Hal yang paling sulit saya lakukan adalah membiarkan otak saya berhenti untuk berimajinasi dan berpikir" (SAWOT)




Kau, duniamu
Aku, duniaku
terhimpit oleh padatnya jejaring sosial
Dunia maya
luas, sempit, tanpa sekat

Kau, pikiranmu
Aku, pikiranku
terjalin
bergesekan
karena dunia maya

Jejaring sosial
mendekatkan manusia
mendekatkan Tuhan
ujung dunia diraih
satu sentuhan

Kau, dirimu
Aku, diriku
merapatkan diri ke dunia nyata
tak semu
tak kaku
tapi sulit
tak berujung
merabahkan diri
tak mampu

Kau, egomu
Aku, egoku
Tumpahkanlah dalam sebuah diari
maya
tak bersekat
aku rasakan sentuhanmu
kau rasakan sentuhanku
satu
tapi semu

Kau, Aku
Kita
Dunia maya
Dunia nyata
Mendekatlah
Dekaplah
Nafas bersatu
Simfoni kode dan angka
tak berhitung
tak bernada
penuh makna

Kau, Aku
Kita
Mungkinkah maya?


-Semesta, 28 Desember 2010-

n.b. : Puisi ini dibuat ditengah perasaan yang gak menentu, pergolakan tentang dunia maya dan perasaan. Sulit untuk menjabarkannya, tidak ada korelasi sebenarnya tapi entahlah.

Bersama dengan handphone, segelas susu, dan derai hujan tulisan ini dibuat..Semoga hari anda menyenangkan..Cheers!